Muslihat, Politik, & Rencana Ekonomi Berjuang

11:47 AM



Buku yang ada di tangan saya ini merupakan gabungan dari tiga brosur politik-ekonomi Tan Malaka yang saat itu beredar dengan sangat terbatas. Buku ini cukup relevan saat ini dan bisa mengugah kesadaran kita akan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Berbicara masalah kemerdekaan, apakah kita semua yakin sudah merdeka atau belum sama sekali. Mari, kita patut mempertanyakan, apakah kita saat ini sudah benar-benar merdeka 100%. 

Tidak sengaja kutemukan buku ini ditumpukan buku diskon di Blok M Square beberapa pekan lalu saat pulang dari Bandung. Awalnya saya mencari karya-karya lain Fadh Jibran setelah membaca bukunya yang berjudul ‘Yang Galau Yang Meracau, Curhat (Tuan) Setan’. 

Sudah pukul 10.00 Wita, hampir semua gerai buku di lantai bawah Blok M Square kudatangi. Akhirnya saya memutuskan mencari Kumcer lain karya Danarto dengan gaya bertuturnya yang khas. Danarto selalu mengajak kita berpikir kritis sekaligus menertawakannya. Kumcernya pun tak kunjung juga saya temukan hanya ada ‘Setangkai Melati di Sayap Jibril’ yang setahun lalu sudah mangkrak di rak buku ku. 

Dari jarak 2,5 m tempat saya berdiri, saya melihat tulisan Muslihat huruf besar dengan gambar Tan Malaka yang hampir memenuhi cover buku yang berwarna biru tersebut. Buku itu seperti magnet, seketika menarikku kubuka halamannya satu persatu. Dalam buku ini, Tan Malaka menulis dengan cara yang berbeda dibandingkan buku-bukunya yang lain. Ditulis dalam format percakapan antar tokoh. Mirip dengan format wawancara yang dipelajari waktu SMP. Disamping harganya murah, saya juga makin penasaran siapa itu PACUL, GODAM, TOKE, DENMAS dan MR. APAL. 

Diatas kendaraan menuju hotel, rasa penasaranku semakin membuncah tak kalah kupandangi buku tersebut. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tahu tentang ‘Muslihat, Politik, & Rencana Ekonomi Berjuang’ dengan ponselku, ternyata buku ini ditulis oleh Tan Malaka tahun 1945. Buku ini juga diberi judul Merdeka 100% oleh penerbit lain. 


Tan Malaka mengemasnya dengan gagasan-gagasan, terinspirasi dari ragam karya dari pemikiran Barat. Socrates pun tak luput dalam sebutannya di dalam buku ini. Yeahhh, hal ini membuat saya makin penasaran dengan lima tokoh yang berdiskusi tentang Muslihat, Politik dan Rencana Ekonomi Berjuang. PACULwakil kaum tani,  GODAMwakil kaum buruh, TOKEwakil kaum pedagang, DENMASwakil kaum priyayi dan MR. APLAwakil kaum intelektual. Ok, langsung saja keisi bukunya.

Di suatu malam pada pertemuan antara Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir dan K.H. Agus Salim — Tan Malaka yang hadir tanpa diundang berkata lantang: “Kepada para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan? Aku merasa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku, harus aku katakan bahwa kita belum merdeka karena merdeka haruslah 100 persen.”

“Hari ini aku melihat kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka cita menjadi ambtenaar….Kemerdekaan bukan milik rakyat. Kita mengalami perjalanan yang salah…”

Pada bab MUSLIHAT, membahas suasana indonesia pasca proklamasi, program dan susunan rakyat berjuang, taktik berjuang. Program yang diusulkan oleh tan malaka yakni Mendirikan pemerintah berjuang oleh rakyat berjuang, Mendirikan laskar rakyat, Membagikan tanah pada petani melarat, Melaksanakan hak pekerja mengatur hak produksi, Melaksanakan ekonomi berjuang, Membersihkan indonesia dari tentara asing dan Melucuti senjata jepang. 

Pada bab POLITIK, membahas arti dari merdeka yang indonesia raih, perlunya mengisi kemerdekaan itu, indonesia harus mendapati merdeka 100%, realita kondisi kemerdekaan indonesia, juga bahasan bentuk negara dan kedaulatan. Tan Malaka membahas bentuk negara, apakah itu monarki atau republik sampai pada bahasan trias politica. Juga dibahas mengenai kedaulatan (pemegang kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara). pada akhirnya dan dalam porsi yang banyak, tan malaka menyuarakan merdeka 100% untuk Republik Indonesia. 

Pada bab Rencana Ekonomi Berjuang, membahas rencana ekonomi negara luar dan rencana ekonomi indonesia. Bab ini lumayan rumit, silahkan dicari tahu sendiri. 

Cita-cita Tan Malaka agar Indonesia merdeka 100% juga pernah dirumuskan dalam sebuah brosur politik- ekonomi berjudul Politik yang ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945. Selain brosur Politik, di tahun yang sama Tan Malaka juga menulis dua brosur lainnya, yaitu Muslihat dan Rencana Berjuang.

Muslihat, Politik dan Rencana Ekonomi Berjuang adalah sekumpulan pamflet yang berisikan dialog antara Toke, Pacul, Godam dan Denmas beserta Mr. Apal mengenai konsep-konsep yang berhubungan dengan gagasannya mewujudkan Indonesia Merdeka 100%. Dalam buku ini begitu banyak protes keras Tan Malaka terhadap kesenjangan kelas proletar dengan kaum kapitalis yakni Belanda yang pada masa sebelum itu menjadi kekuatan yang baru saja dikalahkan.

Baginya Belanda (bersama Inggris) muncul lagi ke Indonesia pada medio November-Desember 1945 disertai dengan beragam muslihat. Salah satu yang menonjol adalah ketika Inggris membuat ultimatum pada rakyat Indonesia agar segera melucuti senjata Tentara Jepang. Inilah yang dinamakan muslihat, bahwa dengan secara de facto Indonesia telah merdeka dari bangsa manapun, rakyatnya atas izin negara diperbolehkan untuk memanggul senjata rampasan yang seharusnya sudah menjadi milik bangsa ini. Akan tetapi inilah yang dilanggar oleh Tentata Sekutu Inggris yang diboncengi NICA.

Di bagian lain buku ini dijelaskan bagaimana membangun pondasi pemerintahan (yang mana dalam hal ini berbicara tentang POLITIK), pada masa awal setelah memastikan kemerdekaan. Harus ada sinergi yang kuat antara beberapa sektor yang dibagai Montesquieu yang kita kenal sebagai Trias Politika. Konsep ini dipadukan dengan bagaimana komunisme muncul sebagai salah satu kekuatan partai politik. Meskipun keinginannya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara partai Tunggal seperti Uni Soviet pada masa itu.

Kemudian di bagian akhir, yakni pamfletnya yang berjudul 'Rencana Ekonomi Berjuang', Tan Malaka membuat perhitungan-perhitungan yang detil dan teliti. Tan Malaka menekankan betapa buruh diintimidasi melalui pemberian gaji. Hal lazim yang masih membelenggu buruh hingga saat ini. 
 Baginya ini adalah akibat efisiensi yang diterapkan oleh kaum kapitalis untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya yang mana hasil laba tersebut akan kembali ke kantong pribadi.

Dan akhirnya, poin penting yang bisa diambil dari buku ini adalah Kemerdekaan yang telah dimulai oleh beberapa Bapak Bangsa kita ternyata tidak cocok dengan idealisme Bapak Bangsa Indonesia kita yang satu ini. Terbukti ketika sebuah prolog mengatakan bahwa Tan Malaka tidak tertarik dengan kemerdekaan yang dirancang oleh Sukarno cs., karena hanya akan mensejahterakan segelintir kaum saja. Dan ternyata terbukti ketika penerus Soekarno melegalkan konglomerasi dan liberalisasi perdagangan. Hal inilah yang semakin menindas Kaum Murba yang terus ia perjuangkan bahkan hingga teriakan-teriakannya dalam kubur yang makin lantang! (Selamat membaca Bab Rencana Ekonomi Berjuang)

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe