Jatuh Cinta Pandangan Pertama? You’re Too Mainstream, Jatuh Cinta Pada Suara???

7:38 PM



Kita hari ini, tanpa sikap, silahkan tenggelam dalam euphoria teman-teman yang selalu bercerita ; Filmnya begini, begitu, seperti ini, seperti itu... dan hal itu masih terngiang dalam benak kami setelah mendengar cerita mereka. 

 Akhirnya, keinginan menonton Halo Makassar bersama rekan-rekan kerja akhirnya terlaksana juga setelah beberapa kali direncankan. Diskusi yang panjang panitia pelaksana nonton bareng dengan misi menyatukan Aksa dan Ani... bacanya tolong dengan nada Bang Haji Rhoma memanggil Ani.
Sangat sulit membawa mereka berdua bersama kami, Aksa yang pendiam yang hanya bisa menyampaikan isi hatinya lewat pesan pendek dan Ani yang selalu memandang sinis ke kami ketika menyebut nama Aksa berkali-kali dihadapannya. 

Jarak kantor dan XXI kurang lebih sekitar 1,5 km. Bangku D dan E menjadi pilihan teman-teman dengan deretan yang sudah ditentukan sebelum berada di lokasi. Sebenarnya alur ceritanya kurang lebih seperti rekan kami Aksa dan Ani. Ani yang begitu penasaran dengan suara Aksa bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarnya kapanpun itu. ‘Cinta pada pandangan pertama ? Biasa, cinta pada suara pertama? Luar Biasa.


Ok balik lagi, ke film tersebut. Rasa penasaran kami terhadap komedi yang akan ditampilkan Makkita Cinema yang kini sudah menjadi Finisia Production sangatlah besar. So, I appreciate Halo Makassar, so much! Ceritanya menarik dan lucu, jujur filmnya melebihi ekspektasi sy pas baca judulnya heheh. 

Sebelum membahas filmnya lebih lanjut, saya ingin mengapresiasi dua hal. Pertama, original soundtrack easy listening. Kedua yakni penulisan naskah yang apik, terutama dibagian ending oleh Matamatahari dan Ihdar Nur. Menurutku level skrip film Halo Makassar memang sudah ditingkat nasional. 

Jika ungkapan "Dari Mata Turun Ke Hati" diubah menjadi "Dari suara turun ke hati", dari mendengar suara seseorang langsung jatuh cinta, mungkin hal itu hanya terjadi pada beberapa orang tidak terkecuali bagi Anggu dan Diat.


‘Halo Makassar’ merupakan film nasional karya sineas Makassar, Sulawesi Selatan. Film bergenre komedi ini digarap oleh rumah produksi Finisia Production. Disutradarai oleh Ihdar Nur yang juga menulis skenarionya bersama dengan Matamatahari. Film besutan sutradara Idal Nur tersebut, juga melibatkan peran serta komedian kenamaan Makassar Tumming Abu.

Film Halo Makassar menjadi lebih segar dan jenaka. Di film ini komedian Tumming Abu tampil sebagai cameo mendukung penampilan Mellonk dan Bimbi.

Film bergenre komedi romantis tersebut, sepenuhnya dimainkan oleh pendatang baru lokal Makassar. Bahkan pemeran utama perempuannya Anggu Batary, masih tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Kemudian Rizaf Ahdiat, Bimbi Mellonk, Tri Indah Budiastuti, Khanza Najwa Thohira, Fitriani, Afrizal Sadiq.

Film ‘Halo Makassar’ berlatar kota Makassar, ceritanya berfokus pada seorang kompuser musik yang demi mendapatkan hasil maksimal melakukan perjalanan ke Makassar.  Namun, di sana ia jatuh hati pada seorang wanita yang bertugas sebagai operator taksi. Dibumbui komedi dari Mellonk dan Bimbi, supir taksi yang selalu mengantar Diat keliling kota Makassar, film Halo Makassar menjadi lebih segar dan jenaka. 

Diat yang sehari-harinya menggunakan taxi dalam menyelesaikan projectnya, jatuh cinta pada suara Anggu, operator taksi yang selalu ia dengan ketika menumpangi taksi. Sebenarnya suara Anggu ini biasa saja, sama seperti operator yang lain. Yang membedakan adalah bahasa dan aksen yang digunakannya membuat orang yang pertama kali mendengar akan langsung jatuh cinta. Selama di Makassar, Diat diberi pilihan antara menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tujuan utamanya atau mengejar cinta dengan segala kemungkinan yang tak bisa ia prediksi. 

Jika selama ini cerita film yang dikemas oleh sineas daerah, seperti di Makassar, akan mengangkat tema seputar adat budaya, maka film Halo Makassar dibuat lebih ngepop dan kekinian. Ide ceritanya baru, kreatif dan unik. Penonton akan dibuat penasaran dengan jalan ceritanya. Apalagi ada Mellong dan Bimbi, komedian baru asal Makassar yang akan menyegarkan suasana.

‘Kenapa harus saya? Kenapa suaraku? Kenapa bukan Mellong’
‘Ihh kaka tohh lalenya’ 

Selamat menonton meskipun di endingnya nanti ada yang anda nantikan namun belum sempat dilihat. Secara keseluruhan filmnya menarik, salah satu film komedi romantis yang manis untuk film Indonesia khusus lokal di tahun 2018, layak ditonton.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe