Delapan Sisi – Pilihanmu Bukan Milkmu Saja

9:31 AM



Buku ini seperti sebuah berlian dengan delapan sisi, delapan kisah di dalamnya yang merupakan cerita dari kehidupan satu orang. Tentang seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter aborsi. Kisah delapan orang terkait karena pilihan satu orang. “Delapan Sisi” juga seperti jumlah kaki gurita, begitu juga kaki laba-laba dan Urip atau Sugeng Wicaksono bertindak sebagai induknya, memusar di tengah sebagai pelaku utama.

Delapan Sisi merupakan Omnibook pertama yang saya baca dan ternyata Delapan Sisi merupakan kumpulan karya angkatan pertama Akademi Bercerita milik Plot Point. Sebenarnya buku ini sudah lama berada di rak buku saya, lantaran masih banyak buku-buku yang belum selesai dilahap. Buku ini merupakan oleh-oleh dari atasan saya sewaktu pulang berlibur ke kampung halamannya. 

Malam itu saya mencari novel karya Wibi Aregawa yang hendak saya pinjamkan ke rekan kerjaku.
Entah kenapa mataku terperangak menatap cover Delapan Sisi dengan warnanya yang super terang. Seorang anak perempuan yang berposisi seperti seorang bayi yang hendak keluar dari rahim seorang ibu. Rapuh, tetapi dengan warnanya yang kontras dengan latar belakang kuning menyala, sekedar menilik sinopsis di sampul belakangnya ternyata sangat menarik. 

Akhirnya kulanjutkan menyelesaikan halaman demi halaman, yahh sekitar 2 hari lebih buku ini saya selesaikan. Bisa dibilang ini ide menarik. Kedelapan penulis dapat mewarnai teritorinya dengan rupawan. Ada yang sedikit pahit, ada yang sedikit remang, ada juga yang asam manis, membuat bingun. Tapi, kalau terus mengikuti alur yang dibuat, memoar Urip ini terasa sehari-hari dan seperti bercerita tentang satu per satu bagian lapisan masyarakat.

Meskipun diawal sedikit membingungkan, berkali-kali saya tertegun melibas satu per satu halamannya, meneduhi satu per satu kata yang dituang oleh para penulisnya, dan terkagum-kagum melihat konfliknya yang begitu unik tapi bisa dikaitkan oleh satu prompt: “aborsi”.  Ada beberapa halaman yang saya sangat sukahi diantaranya ; 

Belajar tak hanya tentang apa yang bisa kamu rasa, bisa kamu lakukan, tapi juga apa yang bisa kamu jaga. (hlm. 102)

Konsep yang menarik. Satu buku, delapan cerita, satu benang merah, satu keterkaitan satu dengan yang lain, delapan penulis. Kedelapan penulis “Delapan Sisi” berusaha mengulas cerita hidup Urip dengan begitu baik dan setia pada sudut pandang orang ketiga. Tetap pada alur yang mengalir. Menarik untuk disimak dan tidak melupakan peranan karakternya yang berubah-ubah, pembaca tetap bisa mencerap konflik batin masing-masing tokoh.

Secara keseluruhan, “Delapan Sisi” sungguh mencuri perhatian dan banyak pembelajaran.  Salah satunya, setiap orang bebas menentukan pilihannya, yang membuat kita tidak bebas adalah konsekuensi yang melekat pada pilihan itu. Dan ingatlah pilihanmu tidak hanya menyangkut dirimu saja, mungkin saja ada orang lain yang terkait dengan pilihanmu. "Karena manusia bukan sebuah pulau yang hadir sendiri, pilihanmu bukan milikmu saja. “

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe