Perempuan Di Titik Nol

4:30 PM



Ada beberapa bagian yang sangat membuatku tercengang di buku ini, salah satunya ; “Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita.” halaman 143. 

Kemudian  “Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan.”  (Halaman 142-143), 

“Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak.” halaman 151

Buku ini benar-benar mencengangkan, saya suka buku ini walaupun ada bagian atau pemikiran di dalam buku ini yang tidak saya setujui karena tidak sesuai dengan pemikiran saya. Perempuan Di Titik Nol mengisahkan tentang jalan hidup Firdaus, seorang pelacur kelas atas yang didakwa hukuman mati karena telah membunuh seorang laki-laki. Di penjara Qanatir, tempat ia dikurung dan menunggu eksekusi, Firdaus menceritakan kepada seorang dokter perempuan alasan-alasan ia melakukan tindakan keji tersebut. Seorang dokter datang menemuinya di penjara Qanatir 10 hari sebelum dia dibawa ke tiang gantungan.

Perempuan Di Titik Nol diceritakan dengan sudut pandang orang pertama yaitu si dokter. Selain itu juga Firdaus menjadi orang pertama yang menceritakan kisahnya kepada sang dokter. Sebelumnya sang dokter sempat frustrasi karena begitu sulitnya menemui Firdaus. Firdaus tidak pernah mau ditemui oleh siapa pun. Tapi akhirnya sang dokter berhasil menemuinya dan hasil pertemuan itu dirangkai dalam novel karya penulis Mesir yang juga seorang dokter ini. 

 “Seakan-akan saya mati di saat matanya menatap saya. Mata yang mematikan, seperti sebilah pisau, menusuk-nusuk, menyayat jauh ke dalam, mata itu menatap tanpa bergerak, tetap. Tak berkedip sedikit pun. Tak ada urat sekecil apa pun pada wajah yang bergerak,” (Halaman 10) kemudian “Suaranya mantap, menyayat ke dalam, dingin bagaikan pisau, tak ada getaran sedikit pun dalam nadanya. Tak ada riak irama sedikit pun,”(Halaman 10) Begitu kesan pertama yang dirasakan si dokter saat bertemu Firdaus. 

 Dari balik sel penjara, Firdaus yang divonis gantung karena telah membunuh seorang germo. Dari sejak masa kecilnya di desa, hingga ia menjadi pelacur kelas atas di Kota Kairo. Ia menyambut gembira hukuman gantung itu. Bahkan dengan tegas ia menolak grasi kepada presiden yang diusulkan oleh dokter penjara. Menurut Firdaus, vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati. Ironis bukan…! Dan sepertinya lewat Firdaus, kita justru  bisa menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi kaum lelaki. Sebuah kritik sosial yang amat pedas!

Dengan bahasa yang tajam serta metafora-metafora yang indah, sepertinya Nawal El Saadawi lewat karyanya Perempuan di Titik Nol ini ingin menghadirkan mitos baru tentang hubungan laki-laki dan perempuan yang lebih baik. Dan cerita tentang Firdaus juga dapat menyadarkan kaum peremuan agar tidak menjadi lemah dan mudah terpedaya oleh laki-laki. Membaca novel ini, mau tidak mau, membuat kita memikirkan lagi berbagai kekurangan dan ketidakadilan yang masih menimpa hak-hak dan kedudukan perempuan di negeri kita dalam masyarakat kita sekarang. Wajar jika karya ini masuk dalam 1001 Books ,You Must Read Before You Die.!!!

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe