Sepatu Alas Tipis Beraroma Kopi Hitam di Lembah Ramma

5:46 PM

“Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya.” Sepertinya apa yang dikatakan Soe Hok Gie sangat tepat. Pasalnya libur lebaran 1437 H tanpa persiapan apapun, kuterima ajakan teman seperantauan menjajal terjalanya turunan dan tanjakan lembah ramma dengan sepatu alas tipis beraroma kopi hitam.

Tidak hanya ayah, ibu dan tante yang berpendapat sama melainkan nenek saya juga ikut-ikutan mengatakan hal yang sama sebelum berangkat ‘Apa yang kau cari di gunung nak’ tentu dengan bahasa bugisnya. Hari itu sehari setelah lebaran saya mengujungi rumah teman seperantauan untuk bersilahturahim. Sekitar setenga jam duduk, dari ruang tamu halaman depan rumahnya tampak sekelompok anak muda bersiap-siap melakukan hiking dengan peralatan serta persiapannya seadanya.
Awalnya saya ragu bahkan belum terpikir sekalipun untuk ikut bergabung bersama mereka.  Masalahnya saya bukan pendaki profesional, bukan pula anggota dari kelompok pecinta alam. Rasanya terlalu berat mendaki dalam kondisi seperti ini, tidak ada persiapan dan perlengkapan semuanya serba mendadak hanya sepatu alas tipis berwarna coklat yang kukenakan dari rumah.
Akhirnya saya memutuskan ikut bergabung, dari rumah kami harus berkendara dengan sepeda motor kurang lebih sekitar 2-3 jam untuk sampai di rumah warga tepatnya di Lembanna. Pukul 22.00 WITA kami memulai perjalanan. Saya merasa beruntung sedang berusaha mewujudkan impian dan angan saya menjelajah tempat ini, sebab almarhum adik saya beberapa kali menceritakan keindahan lembah ramma berikut dengan tanjakan dan turunannya yang super panjang.
Malam itu cuacanya sangat dingin, pendakian ini… pendakian nekat. Hanya sekedar mencari tahu jawaban pertanyaan saya sejak kuliah ‘apa yang kau cari di gunung’. Jalan setapak berpayung pepohonan nan rimbun kami lalui dengan nyaman. Jalan landai dengan kontur tanah lembab menemani perjalanan menuju Pos I menuju Talung, bukit dimana Makassar dan sekitarnya tampak begitu indah dengan deretan lampu-lampu yang menyala. Butuh waktu hampir 4 jam bagi kami malam itu untuk tiba di Talung.
Sekitar 20 menit beristhrahat di Talung, perjalanan kami lanjutkan dengan turunan panjang dan curam. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang kukenakan dipenuhi air. Ditambah jalur setapak dan turunan yang saya lewati hanya diterangi lampu senter korek. Kami terengah-engah menembus kegelapan malam saat menurun. Butuh waktu sekitar 35 menit sebelum sampai di Lembah Ramma.  
Pukul 02.24 WITA kami tiba di Lembah Ramma. Usai beristhrahat sejenak, kami bergegas mendirikan tenda sebelum rombongan yang lainnya tiba. Burasa serta gogos dan mie instan yang kami bawa menjadi penyumpal perut yang mulai keroncongan. Selanjutnya biskuit kopi dan teh hangat menemani obrolan kami malam itu, bercerita tentang apa saja yang membuat suasana hangat hingga perbincangan pun ditutup saat rasa kantuk telah tiba.
Dan diantara semua tenda malam itu tenda kamilah yang paling kisruh. "Ohh.. yah pasalnya temen separantauan berseloroh siapa yang kentut nih. Busuk!. Akibat kedinginan atau burasa keras itu, sepertinya panggilan alam ‘kentut’ datang lebih awal di tenda kami.

Pukul enam pagi, senandung burung suara teman yang lagi sibuk memancing membangunkan kami. Udara sejuk ditambah kabut menyambut wajah saya saat membuka tenda. Disekeliling penuh dengan oksigen nan segar apalagi saat menghirup udara pagi di bawah pohon nan rimbun didepan danau. Pemandangan disekeliling kami sangat indah meskipun matahari tidak nampak karena ditutupi oleh gunung yang mengelilingi Lembah Ramma.
Lagi… lagi segelas teh hangat dan mie instan sedikit memulihkan rasa dingin kami pagi itu sebelum hujan mengguyur kami hingga malam hari. Hari kedua kesabaran kami lagi-lagi di uji, bukan tanjakan, turunan maupun jalan licin tapi tenda yang kami pakai bocor akibatnya dari pagi hingga besok kami harus tidur dengan kondisi basah kalau kata temen saya seharian kita pakai kasur ditenga hutan, tapi kasur air, hahahahha.
Malam kedua tubuh kami semakin bergetar karena rasa dingin yang semakin menjadi. Saya sudah melapisi tubuh, menutupi kaki, kuping telinga dan menyelinap dalam selimut teman, tapi itu belum juga membantu. Bahkan di malam kedua hujan turun semakin beringas, kami merasakan dingin mulai menusuk tulang. Semua pakaian yang saya kenakan sudah basah kuyup. Awalnya saya mengira akan baik-baik saja ternyata semakin membuat badan makin menggigil dikarenakan untuk kedua kalinya kami harus tidur dengan kasur air meskipun posisi tenda telah kami rubah.  
Hari ketiga kami bersiap-siap kembali, namun sebelum itu kami menyempatkan bercengkrama dengan beberapa teman-teman lain yang baru tiba malam tadi. Kemudian dilanjutkan dengan berenang di kolam dingin Ramma di depan tenda kami.  Usai berenang kami beristhrahat sejenak sembari bersiap-siap melanjutkan perjalanan, ehhh.. maksudnya pulang.

Lagi.. lagi…. tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi pemanasan sebelum sampai di Talung. Tanah yang licin setelah hujan juga menjadi kendala kami saat melewati jalur ini.  Beberapa kali saya harus berjalan merangkak di jalur yang menanjak curam. Beberapa kali tanah yang lembab membuat langkah saya cukup mudah alias lebih cepat. Akhirnya tiba juga di Talung, kami menyempatkan foto bersama dan mengabadikan beberapa sudut dari atas bukit.
Sepertinya ini salah satu yang mereka cari di gunung. Menikmati semua keindahan alam secara langsung. Mimpi berada dipuncak tertinggi dan merekam semua yang ada dihadapannya bahkan mengabadikan pesan melalui tulisan di kertas maupun dijari untuk orang-orang terkasih.

 Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi “Tak ada ukuran besar atau kecil sebuah mimpi, yang ada adalah seberapa keras usaha kita mewujudkannya.” Mungkin ini pula yang dilakukan oleh orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun jatuh beribu-ribu kali dalam usahanya, namun kata menyerah bukanlah akhir dari semuanya.
Banyak belajar dari perjalanan ini, dan banyak belajar kebiasaan mereka yang sudah sering mendaki gunung. Saya mengamati banyak pendaki yang turun membawa sampah dari atas. Ini salah satu yang menjadi tradisi di pendakian. Sekecil apapun sampah dipunguti, dikumpulkan dan dibawa turun.

Tegur sapa dengan para pendaki lain, sepertinya juga menjadi sebuah tradisi. Saya masih mempelajari hal ini, membedakan antara tradisi dengan keramah tamahan yang memang ada dalam setiap orang. Mereka seperti bertemu dengan kerabat jauh. Tak jarang mereka menyapa kami, tersenyum, sedikit memberi semangat dan saling menyemangati.
Dari pendakian ini, banyak pelajaran yang saya dapat. Saya percaya bahwa upaya mewujudkan impian dan cita-cita itu lebih indah dan nikmat dibanding impian dan cita-cita itu sendiri. Saya sangat percaya bahwa proses itu lebih penting dari hasil akhir. Setidaknya upaya-upaya yang saya dan kami lakukan baik sebelum dan saat pendakian adalah kisah kecil namun memberikan semangat dan pelajaran yang besar bagi diri saya sendiri.
Dari atas bukit saya jadi ingat almarhum adik saya yang sangat senang ke tempat ini. Saya jadi ingat, bagaimana saya melarang bahkan kerap menegurnya karena pergi ke tempat ini berulang-ulang hingga beberapa kali meninggalkan pelajarannya di sekolah. Saya jadi tahu rasanya dek, alas kaki tipis beraroma kopi yang sama-sama kita beli tiga tahun lalu bersama ibu menjadi saksinya.  





You Might Also Like

2 komentar

Subscribe