Coming Home

11:36 AM


Membaca novel ini seperti mengurai jawaban dari pertanyaan setiap orang. Bisakah sepasang manusia kembali mengucap janji ketika mereka sendiri yang mengakhirinya. Coming home karya Sefryana Khairil menjadi jawabannya.

Novel ini kudapatkan saat dinas ke Serang- Banten beberapa minggu silam. Covernya melambangkan perasaan kedua tokoh, sepertinya keduanya ingin kembali pulang  ke sebuah rumah, tempat dimana merasa nyaman menghadapi kehidupan. Tagline yang digunakan pun cukup menjadi alasan untuk menjalin perasaan lagi. “Karena aku percaya, tak pernah ada kata yang salah untuk cinta.”

Menurutku, Sefryana memang sudah maestro untuk urusan membolakbalikkan perasaan pembaca. Emosi yang meluap saat membuka buku ini dari awal halaman hingga akhir membuat kita semakijn memahami bahwa pernikahan butuh komitmen kuat baik di saat duka maupun suka.
Novel ini menceritakan kisah Amira dan Rayhan yang merupakan simbol dari sebuah pernikahan yang gagal. Seperti halnya sebuah hubungan yang lain, pernikahan harus didasari dengan saling memahami, sayangnya Rayhan memilih untuk mencari pelarian saat masalah dalam rumah tangganya harus kandas. Ibarat rumah, bukannya memperbaiki atap yang bocor dan mencari mana saja yang retak, Rayhan justru membuat rumah yang ditinggalinya hancur seketika.

Rayhan yang memutuskan untuk pindah bersama anaknya, Kirana. Dimana kota tujuan mereka adalah kota yang pernah ia tempati dulu bersama mantan istrinya, Amira. Di kota itulah akhirnya Rayhan bertemu kembali dengan mantan istrinya, Amira. Kenapa? karena secara kebetulan, Kirana bersekolah di TK tempat Amira mengajar.  Sejak pertemuan itu, Amira merasakan perubahan yang besar pada Rayhan. Namun, Amira masih takut akan bayang-bayang masa lalu yang menghancurkan rumah tangganya.
“Ndak ada yang lebih sederhana daripada memaafkan to? Kalau kamu sudah bercerai dengan Rayhan, kamu harus belajar memaafkan, Nduk. Kebencian yang ada di hati kita akan menghancurkan diri kita sendiri.” (halaman 89)

Seperti layaknya romance domestic drama yang lain, novel ini pun mengisahkan lika-liku pernikahan yang tak selalu bahagia. Tata bahasa yang rapi dan indah, premisnya sederhana, namun Sefryana mampu mengurai emosi dengan untaian kata-kata yang terus mengajak kita mengalir dalam cerita yang dibuatnya. Ditambah begitu banyak quote yang ditampilkan yang mewakili perasaan kedua tokoh utamanya. Maka, selamat menikmati cita rasa cinta yang dibalut rindu dalam cerita novel ini.



You Might Also Like

0 komentar

Subscribe