Simpul Tali ‘JOURNEY’

2:42 PM

Seperti menemukan buah segar yang baru saja jatuh dari pohon. Konsep satu buku dengan 2 cover memang bukan yang pertama. Journey karangan Athe Lathief dan Mhimi Nurhaeda kutemukan terselip diantara tumpukan buku yang dijual pedagang buku disekitar GOR Sudiang minggu pagi. Dua sampul dan dua cerita ditambah warna cover ‘journey’ dan design sampulnya yang cukup unik membuatku semakin ingin memilikinya. Meski ditulis oleh dua orang yang berbeda, novel ini memiliki satu ujung yang menggambungkan antara dua penulis. Tidak salah jikalau akhirnya cover novel ini merupakan simpul tali.
Novel konvesional yang teratur dan rapi ini, mengisahkan tentang Irji ( yang ditulis oleh Athe Lathief) dan Shea (yang ditulis oleh Mhimi Nurhaeda) , berusaha untuk lepas dari peliknya masa lalu yang dihadapi. Journey adalah proses, membacanya seperti mendengarkan cerita dari dua orang yang terdekat,sekaligus mengajak kita ikut merasakan romansa yang dituliskan oleh ‘Mhimi’ dan ‘Athe'.

Disusun seperti dua sisi mata uang, penulis menciptakan karakter dengan kisah masing - masing yang kemudian saling bertautan satu sama lain. Kisah ringkas dengan plot-plot yang unik, lugas, ringan dan sederhana membuat kita sangat dekat dengan tokoh yang diciptakan dalam novel ini. Ceritanya gak cuma lahir dari semangat dan cita-cita dua penulis, tetapi lahir dari dua hati yang sepertinya galau. Seperti ‘Cinta itu merah, jendral’.
Konsep satu buku dengan 2 cover memang bukan yang pertama. Namun, identitas dari novel ini tertumpu pada dua penulis yang menceritakan tokoh mereka dengan alur mereka masing-masing. Gaya Mhimi Nurhaeda Demmu yang spontan, segar, dan mendalam namun pada novel ini mampu hadir dengan sosok baru, sensitif, melankolis, dan menjadi wanita pejuang cinta. Shea menjadi perwujudan dari wanita kekinian yang digambarkan Mhimi. Mengejar cintanya ke berbagai pelosok bumi, memungut serpihan-serpihan kenangan yang tidak sedikit mengorbankan air mata pun juga gelak tawa, menampakkan sisi tegarnya, dan bagaimana dia hidup dalam setiap kenangan masa kecil dan cinta masa lalunya. 

Sementara Athe’ Latief menghantarkan kita menikmati lembar demi lembar dari perjalan Ursa Minore, membuat kita begitu jelas dengan penggambaran tokoh dan kisah yang dipersembahkan, seolah-olah sosok Ursa sendiri yang bercerita tentang dirinya.

‘Jatuh cinta adalah kegilaan tak terbatas, dan aku tak pernah berharap disadarkan dari kegilaan ini. Biarkan aku menemukan kesadaranku sendiri, dengan jalan cinta itu sendiri. Meski pada akhirnya kesadaran itu adalah tangisan yang tak berujung, maka sesungguhnya aku benci disadarkan dari kegilaan ini.
Dari keseluruhan cerita dan chapter yang ada dalam novel ini, kutipan diatas merupakan salah satu favoritku. Meski cerita dalam novel ini sedikit kelam dan menceritakan bagaimana susahnya move on terhadap  kisah cinta dimasa lalu namun secara keseluruhan, novel ini sangat baik. Kemudian buat yang pengen belajar move on silahkan dibaca. KERENNN!!! 

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe