Bayang-Bayang Ramadhan di Perantauan

3:44 PM

Kalau tahun-tahun sebelumnya saya menjalani ramadhan bersama keluarga, tahun ini saya mau mencoba sesuatu yang baru yakni menemukan ketenangan ditenga keinginan melewati ramadhan bersama keluarga. Setiap ramadhan datang, perasaan saya selalu bercampur aduk antara senang dan haru. Senang karena bisa kembali menjumpai bulan yang didalamnya penuh ibadah dan berkah ini. Haru karena setiap kali ramadhan datang, saya selalu teringat suasana ramadhan di kampung halaman.

Ada banyak momen yang mengesankan jika mengenang suasana ramadhan di kampung halaman. Kini semuanya terasa berbeda, bukan berarti tidak menyenangkan. Tidak ada lagi suara ibu yang mengetuk-ngetuk pintu kamar membangunkanku sahur dan menanyakan makanan yang hendak kami makan saat berbuka. Suasana malam-malam ramadhan yang kini saya jalani, sudah tidak seperti dulu lagi. Tak ada lagi keramaian anak-anak kecil yang bermain di malam-malam. Tak ada lagi gemuruh petasan disekitar rumah dan masjid saat malam-malam shalat tarwih.
Kini anak-anak lebih memilih bermain dengan gadgetnya ketimbang membuat petasan tradisional seperti meriam bambu (bazooka) yang fenomenal. Sangat fenomenal menurutku, pasalnya banyak sekali pengalaman yang kulewati bersama teman-teman mulai dari dikejar tetangga dan pengurus masjid hingga alis terbakar dikarenakan posisi meniup lubangnya kurang tepat. Ya… ini mungkin karena pergeseran zaman yang merubah semuanya atau mungkin pula karena saya sudah bukan anak-anak lagi, jadi segala yang ada disekitar saya sudah tidak semenarik dikala saya melihatnya sebagai seorang anak-anak.
Lima tahun berada diperantauan membuatku membayangkan bagaimana menikmati indahnya ramadhan di hari pertama hingga Idul Fitri bersama keluarga. Bangun untuk makan sahur dan berbuka puasa tentunya merupakan hal yang paling mengasyikkan dibulan puasa. Ditambah lagi suara beduk yang saling bersahutan antar masjid, Orang-orang berangkat tarawih berbondong-bondong, hingga anak-anak kecil yang berkeliling dengan gendangnya membangunkan sahur. Ramadhan benar-benar disambut dengan begitu antusias baik oleh orang tua maupun anak-anak. Setiap keluarga bahkan setiap orang selalu berusaha mempersiapkan diri dalam menyambut bulan suci yang selalu dinanti-nanti.
Sore saat pulang kerja, sembari mendengarkan suara merdu Michale Buble diiringi petikan gitarnya dalam lagu Home. Diatas kendaraan bayang-bayang tentang rumah dan ramadhan bersama keluarga menyesaki dada, menghimpit hingga menghantarkan rindu kepada keluarga terutama adikku yang tidak dapat menikmati indahnya ramadhan.
Aku rindu rumah... dan semuanya. Dalam diam saya merenung, saat lebaran nanti ‘Siapa yang menungguku pulang?’ Orang tua dan saudariku berlebaran di tempat yang sangat jauh. Ah.. renungan ini, jauh lebih menyakitkan daripada kerinduan akan rumah. Jauh lebih menyakitkan daripada merindukan seseorang yang belum dimiliki. Sungguh menyesakkan, sepertinya tahun ini saya menikmati ramadhan dan berlebaran tanpa keluarga terutama Ayah dan ibu. Mudah - mudahan ibadah dan amalan yang telah kami lakukan mendapat rahmat dari Allah SWT.

Marhaban Ya Ramadhan,
Mohon maaf lahir batin.......

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe