Senyum Pertama di Pagi Airin

3:09 PM

Keinginan saya membaca novel ini bermula saat melihat covernya yang eye-catching dengan warna kuning yang terlihat manis dan warna orange membara nan indah nampak matahari terbit. Gaya penulisan yang cukup lincah dan ringan, dengan alur yang cepat, mampu mengurangi risiko kebosanan saat membacanya. Novel ini cocok sekali dibaca oleh remaja yang sedang menginginkan bacaan ringan dan sedikit seru sebagai hiburan.

Bagaimana jika masa lalu kembali hadir di masa kini? Airin, seorang gadis keturunan Jepang, berusaha lepas dari jeratan trauma masa lalu. Pertemuan dengan Reza, membawa takdir tak terduga dalam hidupnya. Airin, seorang gadis keturunan Jepang yang mengalami trauma karena Dennis pacarnya dijodohkan dengan gadis lain. Sejak itu, Airin menutup diri. Ia mempunyai hobby aneh, menyusuri jalan raya malam-malam.

Suatu ketika ia kembali jatuh cinta pada Reza, seorang pemuda misterius. Airin kembali merasa hidup. Hime, adik Airin juga berpacaran dengan Andre yang ternyata adik Reza! Padahal Airin telanjur melarang hubungan Hime dan Andre. Di lain pihak, Dennis tetap gigih mencintai Airin.

Kisahnya diceritakan dengan baik. Hanya saja saya kurang merasakan greget. Entah mengapa, tidak seperti judulnya “Senyum di Pagi Airin”, saya lebih merasa yang menjadi tokoh utama cerita ini Hime. Sepertinya saya merasakan perasaan cinta Hime yang begitu mendalam kepada Andre. Tapi, kesanku mengenai Airin malah biasa saja, hanya diakhir cerita yang agak menarik.
Memang tidak ada naskah yang sempurna, namun setidaknya ada beberapa quote menarik yang dapat dijadikan inspirasi bagi yang membaca novel ini, salah satunya “Hal yang paling menyakitkan adalah bukan saat orang-orang yang kita cintai membenci kita, bahkan pergi untuk selamanya, tapi saat kita membiarkan mereka berada dalam bahaya karena kita.” Kemudian kata Hime dihalaman 199, “Bahagia itu bukan bukan sesuatu yang kita dapat dari orang  lain, tapi bagaimana kita memberikan sesuatu pada orang lain.”

Disamping itu konflik dalam novel ini dihadirkan serba singkat dan terkesan terburu-buru. Jujur selain sedikit membingungkan, rangkaian konfliknya tergolong terlalu banyak dan melebar untuk diringkas menjadi 200 halaman. Akan lebih baik bila satu dua konflik saja yang dikembangkan. Beberapa adegan yang penting seperti momen meninggalnya ibu Andre juga diceritakan terlalu ramping. Karater sang ibu juga lebih sebagai pelengkap yang tak terlalu berpengaruh dalam alurnya. Tentunya bila digarap lebih serius lagi akan menjadi lebih menarik. Di samping itu, pertemuan Airin dengan Reza disorot lebih sebentar daripada cerita hubungan Hime dan Andre.

Sedikit masukan sih, perlu adanya riset dan deskripsi yang lebih memadai sebab setting lokasi dibeberapa cerita masih kurang jelas. Kemudian cerita yang disajikan dalam novel ini akan lebih menarik jika ada sedikit dialog dalam bahasa Jepang antara Airin dan Hime karena mereka kan campuran Jepang. Anyway, cerita novelnya cukup menarik dengan hasil yang tak terduga  dan ada unsur  thrillernya.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe