Wahai Adikku Semoga Pucuk Rinduku Sampai di Jasadmu

10:52 PM

Yang pulang tidak akan kembali. Saya ikhlas Ya Allah…., karena kita semua memang harus pulang, tinggal waktunya saja. Tapi pergulatan batin menuju ikhlas ku masih berlangsung, entah sampai kapan Ya Allah. Sering kusebut namanya disetiap sholat dan sujudku bahkan disela-sela aktivitasku. Tak kuat rasanya membayangkan adikku menahan sakit yang dideritanya bertahun-tahun hingga kembali kepadamu Ya Allah.

Tak terasa kepergiannya begitu cepat, dan sepertinya baru kemarin aku melihat wajahnya. Saat ini aku masih ingat betul detik-detik terakhir ....hembusan nafasnya....saya berada disampingnya bersama ibu, bapak dan saudara perempuan ku serta keluarga lainnya. Saat itu adikku terkulai lemas di kamar ICU usai operasi. Sungguh aku tidak percaya jika Allah SWT mempunyai rencana secepat itu, dan saya yakin jika kehendak Allah SWT itu yang terbaik untuknya. Ya Allah… saya menyesal tidak dapat menemaninya saat operasi, kini yang saya dengar hanya cerita ibu dan saudara perempuanku serta teman-temannya yang berada disana sebelum dan setelah operasi.

Meskipun sangat berat, ku coba untuk tegar sekuat mungkin. Pikiranku kalut, pikiranku kacau, aku benar-benar hilang arah saat itu. Ibu yang telah keburu pingsan, tak kuasa melihat kepergianmu. Dan ayah yang mencoba tegar menemani saat terakhirmu di dunia ini dengan kondisi yang amat sangat lemah. Kucoba membimbingmu bersama ayah untuk mengucap lafadz Allah hingga nafasmu benar-benar berhenti namun kamu tetap tidak sadarkan diri hanya mengeluarkan air mata.
Astaghfirullahal’adziim…., Ya Allah aku tidak bermaksud untuk menggugatMu atau menuntut yang lain dariMu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Aku ingin menangis Ya Allah…. tapi aku tak bermaksud untuk tidak ikhlas dengan semua kehendakMu. Aku juga tak ingin air mataku menjadi penghalang bagi perjalanan adikku menghadapMu.
Ada banyak sekali potret adik yang tersimpan dalam bingkai kenanganku Ya Allah. Atas nama cinta kusampaikan doa ini, satu dari sekian banyak doa untuk adik yang selalu ingin kukirim ke tempat ia kini berada. Adikku…, menyebut namamu mengalunkan vibrasi dalam denyut nadiku, memenuhi rongga tubuhku dengan getaran. Jutaan getaran yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan yang berbeda membuatku merintih dalam kerinduan setiap malamku. Setiap hari kucoba menitipkan rasa itu lewat doa-doa panjangku, kuharap kamu  bisa merasakannya.
Saat kutulis catatan ini, sudah 14 hari kau meninggalkan kami. Tetes air mata dan untaian do'a selalu kupanjatkan kehadirat Ilahi Rabbi. Di ujung malam antara lelap dan sadar saya merasakan kenangan itu datang lagi, mengingatkanku lagi, ketika kau sudah pulang ke Rahmatullah. Wahai adikku malam tadi kukirim sepucuk rindu…,rindu yang telah uban kusimpan di hati, semoga pucuk rinduku sampai di jasadmu. Gemuruh TAHLIL, TAKBIR dan TAHMID berkumandang di sudut-sudut ruangan rumah kita adik ku beberapa waktu yang lalu membuatku merasa sangat dekat dengamu. Yahh ... tempat dimana kita dulu saling berbagi canda dan tawa, yang pernah kita lalui bersama. Kini rasanya jauh sekali adikku. Lihatlah adikku betapa banyak jamaah tausiyah yang datang mendoakanmu.
Adikku ..... tersenyumlah kepadaku berikan tanganmu dan jabat jemariku, meski hanya lewat mimpi. Aku rindu akan senyummu wahai adik ku. Saya tidak yakin dengan perkataan mereka yang mendengar bahkan melihatmu adikku. Hanya cerita ibu dan ayah yang saya yakini kebenarannya melihatmu. Datanglah adikku….  kamu adalah sosok yang aku sayangi sekaligus motivasiku dalam bekerja. Ingatt kan kakak sering mengatakan “sekolah yang baik, biar saya yang bekerja supaya bisa bantu ayah jika kelak kamu mau mendaftar polisi”. Hhahaha.. lihatlah adik, hilang sudah mimpi ayah yang ingin melihat salah satu anak laki-lakinya menjadi polisi… padahal demi kita ayah rela bolak-balik mencari nafkah. Seperti cerita tiga waktu tentang keluarga kita yang pernah kutulis di kumpulan cerpen ku yang kuperlihatkan padamu. Ingat kann…
Entahlah, baru sekarang aku sadar betapa diri ini sangat rindu. Rindu pada setiap canda dan tawa yang kau perlihatkan serta cerita-cerita konyol di waktu yang lalu. Dan saat itu, semua hanya biasa. Tak pernah ada kesan istimewa. Tapi sekarang, hal itulah justru yang sangat kurindukan.  Adikku ...kini aku hanya bisa berkunjung di tempat peristirahatan terakhirmu. Aku berjanji akan selalu datang untuk menghilangkan rasa rindu ini. Terima kasih adik atas semuanya, kamu sangat sabar setiap ocehanku kamu dengar meskipun belum tentu kamu kerjakan. Kamu sangat baik membantu orang tua disana mencari nafkah.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim….
Kami titipkan adik kami tercinta kepadamu….
 Sayangi ia seperti engkau menyayangi kami….
Pertemukanlah kami kembali di alam nun jauh nanti….
Satukan kami dalam indahnya surgamu…..
Ampuni setiap kesalahan dan kekhilafannya Ya Allah….
Berikan ia tempat terindah disisimu….
Sesungguhnya kami lemah, kami tak berdaya tanpa kekuasaanmu ya Allah….
Kabulkan doa dan permohonan kami.

Miss  you Andi Guntur Mappanganro

You Might Also Like

4 komentar

  1. Amiin...

    Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian adiknya.
    Moga alm diberikan tempat yang terindah.

    Halo, makasih dah berkunjung yaa.
    salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih emak-emak blogger sudah berkunjung juga
      Salam kenal

      Delete
  2. Amiin...

    Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian adiknya.
    Moga alm diberikan tempat yang terindah.

    Halo, makasih dah berkunjung yaa.
    salam kenal

    ReplyDelete
  3. Turut berduka cita kak, baru sempet baca benar2 postingannya, sangat amat menyedihkan.

    ReplyDelete

Subscribe