"Tau-Tau" Di Bumi Lakipadada

10:55 AM

Akhirnya mimpi ke Tana Toraja untuk kesekian kalinya terbayar setelah saya mengujungi berbagai obyek wisata di Tana Toraja bersama teman sekantor ku diperantauan. Awalnya ide tour ke Tana Toraja saya rencanakan di bulan Desember bertepatan dengan Lovely December dimana seluruh penduduk asli Toraja yang berada di daerah-daerah perantauan berbondong-bondong kembali ke tanah leluhur merayakannrya.

Malam sebelum berangkat ke Tator saya ke rumah teman se-kantor untuk meminta ijin ke ibunya agar dapat berangkat bersama selama 3 hari. Sedikit agak pesimis mengingat ini pertama kalinya saya dan dia liburan bersama, ditambah dia anak perempuan yang sangat-sangat disayang oleh kedua orang tua plus neneknya. Tidak lama duduk bersama keluarganya di ruang tenga, akhirnya kami diberi ijin dan yang paling saya ingat sebelum berangkat ibunya berpesan “Jaga dia yahh…., seandainya bukan sama kita perginya… pasti saya tidak izinkan… “ mendengar kata itu berasa anuu… hahahah..  entahlah yang pasti alhamdulillah dapet lampu hijau tuk berangkat.
Perjalanan kami mulai dengan mengunjungi perwakilan bus yang akan mengatarkan kami ke Tator mengingat beberapa rombongan sudah berada disana duluan. Jarak Makassar dengan Tator kurang lebih 7-8 jam perjalanan dengan bus yang super duper enak untuk selonjoran sambil ngorok cuyy. Di Toraja kami menginap di Pantan Toraja Hotel di Makale. Udara di kota Makale sangat sejuk karena berada di ketinggian kurang lebih sekitar 1500 di atas permukaan laut  ditambah lokasi hotel berhadapan langsung dengan bukit indah plus sunrise membuat hari pertama di Toraja semakin berkesan.
Hari pertama berada di Toraja, kami mengunjungi Lemo yang terletak di sebelah selatan kota  Rantepao dan setengah jam dari Makale. Di Lemo kita bisa melihat rumah tradisional Toraja dan Rumah Tongkonan yang konon umurnya sangat lamah serta tebing dengan makam-makamnya lebih terlihat seperti rak boneka dan beberapa lubang persegi dengan pintu kayu. Lubang- lubang persegi itu adalah tempat di mana jenazah disimpan. Patung-patung yang terlihat seperti boneka itu disebut tau-tau yang berarti orang-orang atau  patung. Patung-patung tersebut mewakili orang-orang yang dimakamkan di sana. Patung-patung tersebut mengenakan pakaian yang secara berkala diganti dengan cara melaksanakan upacara terlebih dahulu.
Menurut driver yang membawa kami, konon kabarnya hanya orang berstatus sosial tinggi saja yang dibuatkan tau-tau. Dari Lemo kami menuju ke Kete Kesu yang terkenal sebagai daerah penghasil kerajinan pahat, ukir, dan lukis. Kemampuan memahat dan mengukir tersebut sepertinya diajarkan secara turun-temurun. Yang menarik di Kete Kesu terdapat museum yang mengoleksi berbagai jenis peralatan perang, rumah tangga sampai dengan kerajinan khas Toraja terdahulu. Disamping itu juga rumah tongkonan yang berdiri saling berhadapan yang menjadi primadona wisatawan apalagi yang sangat menyukai photography.
Dari Kete Kesu kami bergegas menuju ke Londa. Londa merupakan salah satu gua makam paling popular sebagai tujuan wisata di Tana Toraja. Objek wisata Londa berada di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi. Lokasinya kurang lebih 7 kilometer dari selatan Kota Rantepao. Untuk mencapai lokasi gua makam Londa, kita harus menuruni sejumlah anak tangga dan menyewa lentera petromak mengingat di dalam gua sangat gelap. Di dalam Goa makam Londa ini terdapat puluhan peti mati yang menjadi tempat peristirahatan terakhir warga Toraja. Peti-peti mati tersebut disebut dengan ‘Erong’. Bentuknya bisa berupa babi, perahu, atau kerbau. Bentuk kerbau merupakan penanda bahwa di dalam peti ini terbaring mayat seorang pria sementar jika berbentuk babi, maka berarti yang ada di dalamnya adalah mayat perempuan.
Disepanjang perjalanan teman sekantor ku berkata “Wisata apa ini dari tadi yang kita lihat hanya tulang belulang dan tengkorak… ucapnya sambil tertawa. Sambungnya, kapan kita ketemu pantai?? Mendengar hal tersebut saya menahan tawa dan mencoba menghiburnya dengan mengarahkan moncong kameraku ke wajah dan mencoba merekam lesung pipinya. Liat sini atriddd…. 1… 2… 3… senyum.. hahahahha seperti itu berulang kali…. sampai tertawa dan lupa tentang keinginannya melihat pantai di Tator.
Setelah mengelilingi ketiga tempat itu kami menuju ke Old Baby Graves yang terletak di Kambira. Di Kambira kuburan berisi jasad bayi-bayi penduduk. Kuburan ini lain dari yang lain, menempel di pohon Tarra yang berumur sekitar 300 tahun. Tana Toraja tak hanya memiliki kuburan di tebing, tetapi juga di batang pohon yang menurut ajaran aluk Todolo (animisme), bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena bayi-bayi tersebut dianggap masih suci.
Hari kedua perjalanan kami lanjutkan menuju ke Batutumonga sebuah objek wisata nan eksotik terletak di lereng Gunung Sesean, tepatnya di Kecamatan Sesean Suloara. Batutumonga dikenal karena pemandangannya nan mempesona. Sebelum sampai di Batutumonga kami mampir ke mampir melihat Batu Megalitik dan Kuburan batu di Bori. Menikmati pemandangan Kota Rantepao dan Makale dari Batutumonga menjadi penutup perjalanan kami di Toraja.
Toraja merupakan salah satu destinasi pariwisata andalan propinsi Sulawesi Selatan. Tana Toraja memiliki kekayaan budaya warisan leluhur yang tidak akan dijumpai di daerah lainnya. Suku Toraja terkenal dengan ritual upacara pemakaman jenazah (orang mati) yang diadakan secara besar-besaran dengan menyembelih banyak kerbau.  Satu hal yang paling berkesan dengan budaya di Tana Toraja dimana kematian merupakan puncak pencapaian dari kehidupan. Penguburan merupakan acara yang terpenting bahkan lebih penting daripada pernikahan.
Meskipun tidak dapat menyaksikan kemeriahan Lovely December masyarakat Bumi Lakipadada, namun bukan berarti saya tidak dapat menikmati wisata alam dan budaya unik Tana Toraja yang mencuatkan decak kagum. Tentunya, menjelajah berbagai tempat ternyata memberikan banyak manfaat. Selain bisa mengenal dan menikmati suasana lingkungan baru, kegiatan seperti ini juga mampu menghasilkan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Seperti pentingnya sikap saling menghargai dan kemauan menghormati perbedaan serta bagaimana melestarikan budaya yang ada.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe