Selamat Menggalau!, Selamat Meracau! Yakinlah, Galau Pasti Berlalu!

8:45 AM

Buku ini bukan novel, bukan kumpulan cerpen, tapi kumpulau racauan, begitu menurut Fahd Jibran. Memang ada prosa, puisi, maupun monolog di buku ini. Saya tertarik dengan buku ini awalnya karena judulnya “Yang Galau, Yang Meracau!”. Judul ini memuat dua kata yang sangat akrab dalam kehidupan saya, hahaha…. GALAU dan RACAU. Ini buku pertama Fahd Djibran yang saya baca, warna-warni banget maksudnya kadang membuat tersenyum, tertawa, tersindir bahkan merinding.
Yahh… saya jadi memfavoritkan buku karangan Fadh Djibran dikarenakan membahas topik yang sering dipertanyakan oleh manusia; SETAN, CINTA dan TUHAN.  Hahhaha.. jadi inget, dulu saya punya teman diskusi di kampus sering membahas dan mendebatkan Tuhan. Setuju sekali dengan Fadh, keberadaan Tuhan dan sifat Tuhan memang debateble.

Buku ini merangkum sejumlah tema yang barangkali selama ini membuat kita galau: Hidup, cinta, iman, dosa, setan, dan Tuhan. Tema-tema itulah, yang dengan berbagai turunannya, diakui atau tidak, selalu menjadi sentral pemikiran dan perenungan keseharian kita. Dalam buku ini penulis memasukkan unsur filosofis spiritual dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Filsafatnya yang kental sangat cerdik melebur dalam bentuk cerita pendek, prosa liris bahkan puisi yang secara keseluruhan, mau tidak mau, kita akan dibuatnya merenung dan berpikir lebih dalam. Seperti diajak untuk membuka pikiran dan berpikir tanpa batas mengenai pembahasan filosofis yang disajikan
“Yang Galau, Yang Meracau!” ini dipersembahkan untuk teman-teman yang “galau” dan ingin berbicara pada diri sendiri secara lebih bebas dan lebih jujur. Tak ada yang lebih kita butuhkan saat berbicara pada diri sendiri selain menjadi jujur dan apa adanya. Sebab, kegalauan lebih sering diakibatkan oleh sikap tidak jujur dan manipulatif, pada diri sendiri atau orang lain. Lepaskanlah topeng-topeng, lepaskan prasangka-prasangka buruk, lepaskan kesombongan, rasa benci, dendam, dan iri hati; Sebaliknya, sayangi segenap diri kita, penuhilah ruang kesadaran kita dengan cinta.

Percayalah, kadang-kadang menjadi galau itu perlu! Seperti menemukan bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut, kemudian kita merasa tidak nyaman dan ingin membersihkannya—menjernihkannya. Bedanya, saat galau, yang keruh dan perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri…
Secara keseluruhan, ini bukanlah buku yang berat untuk dicerna. Justru ini adalah bacaan yang sangat ringan dengan potensial perenungn yang sangat besar. Hahhhah…buku ini juga mampu MENAMPAR kita. Membaca buku ini memang perlu berpikir. Bahkan ada satu atau dua bab yang sudah saya baca sambil mikir tapi saya merasa masih belum paham betul. Entahlahh…. belum paham atau sebenarnya berbeda paham sehingga saya jadi malas memahaminya. Sudahlah…  Selamat menggalau!, Selamat Meracau! Yakinlah, Galau Pasti Berlalu! 

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe