Aku Bisa, Aku Tidak Bisa, Tapi Tuhan Bisa Adikku!!!

11:11 AM

Sudah hampir 40 hari kepergianmu wahai adikku. Bagaimana rindu ini akan kubiarkan? Senyum itu kini tak akan pernah lagi kulihat. Kenapa secepat ini harus melepasmu?  Aku ingin memelukmu. Yah sangat ingin, aku rindu… aku rindu… Ya Allah. Sore itu saya mendadak pusing tidak karuan sambil menatap seragam yang kugunakan disudut meja kerjaku tepat disamping tangga dengan kondisi laptop yang masih hidup. Jam menunjukkan hampir pukul 5 saya bersiap-siap pulang. Biasanya sebelum jam 5 saya menelpon menanyakan kabar orang tua, kegiatan adik laki-laki dan perempuanku hari ini. Maklum saja kami berada di tiga tempat yang berbeda seperti cerita tiga waktu yang pernah saya bacakan ke almarhum adikku saat 2 cuti yang lalu atau sekitar 5 bulan sebelum ia meninggalkan kami selamanya.

Entah mengapa sore itu lain, setiap saya menunduk seolah ada yang memperhatikanku bahkan seperti mengipas punggungku yang basah. Hari itu sangat bersahabat, langit biru dan udara sejuk yang sangat berbeda dengan hari sebelumnya. Dari gedung kayu tua berdinding kaca kunaiki kendaraanku menuju ke rumah. Jarak kantor dan rumah kurang lebih sekitar 5 menit, entah kenapa sepanjang perjalanan saya malah kepikiran almarhum adik ku yang tidak bisa menikmati sore sesejuk ini. Andai saja kamu ada, bisa kuceritakan atau kau nikmati langsung sore ini.

Sembari mendengarkan suara merdu vokalis Payung Teduh diiringi petikan gitarnya dalam lagu Rahasia, bayang-bayang tentangmu dan rumah menyesaki ruang dada hingga menghantarkan rindu. “Kau tahu adik!!! siapa lagi yang menungguku pulang?” Ah.. pikiran ini, jauh lebih menyakitkan daripada kerinduan akan rumah tempat kita biasa berkumpul. Jauh lebih menyakitkan daripada merindukan seseorang yang belum dimiliki. sungguh, sangat menyesakkan.

Belum lama duduk sambil membaca buku usai pulang kerja, saat saya berada di rumah ada seekor kucing yang selalu datang setiap hari dan duduk manis di depan pintu menatapku. Entah kenapa setiap kali saya melihat kucing ini, saya merasa diingatkan untuk tidak memelihara hati yang keras. Kucing yang selalu datang setiap kali pintu rumah saya terbuka, mengingatkan saya untuk hidup dengan penuh cinta dan kasih. Setiap kali saya duduk membaca buku di dekat pintu, kucing itu berhasil membuat saya tersenyum karena tingkah lakunya.

Sampai sekarang kucing itu belum saya berinama . Mungkin saya tidak akan memberinya nama seperti yang dilakukan orang lain. Saya biarkan dia memilih namanya sendiri meskipun tidak kuketahui keinginanannya. Rasa sedih dan pergulatan batin atas kepergianmu seketika berkurang. Hati saya melunak karena kucing yang menghampiri saya setiap hari di pintu rumah mengingatkan saya untuk tetap menikmati apa yang ada, tidak terpenjara di masa lalu serta tidak juga mengembara dimasa depan hanya duduk merangkul diam.
Rentang jarak Kalimantan, Makassar hingga Papua bukan ukuran yang bisa ditempuh dalam hitungan detik. Kelebat yang terbiasa nyata lalu menghilang, tentu saja membias rindu. Ada hati yang tertatih menakar rasa. Bukan hanya saya dan ibu tapi ayah kita. Detak yang saling berdenyut meski detik tak seirama. Sudah hampir 40 hari kepergianmu, semua berubah adikku. Saya berusaha menjalani hidup dalam semangat yang terus meletup, sebagai bukti bagi kebanggan sang ayah dan ibu.
Tangisanku kutahan dan aku berdoa, “Ya Tuhan adikku, adikku, berikan tempat terbaik untuk adikku disisimu”. Beberapa kali usai shalat maghrib tangisku kembali merebak saat mengingat ibuku memeluk adik dan membisikkan kata-kata yang mampu menguatkannya namun tak kunjung sadar juga. Ini semua seperti mimpi buruk yang menjelma nyata. Setiap mengingatnya kepalaku sakit. Nyeri hebat menyerangkku tanpa ampun. Sejak saat itu sakit kepala mengakrapi hidupku, terutama bila mengiatmu wahai adik ku.

Tuhan tolong lindungi dia berikan tempat terbaik. Sungguh ia adalah yang paling hebat, batinku berucap sambil memandangi fotonya yang saat ini hanya menjadi hiasan dinding disudut kamarku. Atas nama cinta kusampaikan doa ini, satu dari sekian banyak doa untuk adik yang selalu ingin kukirim ke tempat ia kini berada. Yang pulang tidak akan kembali. Saya ikhlas Ya Allah…., karena kita semua memang harus pulang, tinggal waktunya saja. Dan pada setiap jejak akan selalu ada kisah tentang sosok yang tak pernah terganti di setiap waktu, akan selalu ada doa untuknya yang tak pernah hilang.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe