GAIMA EKOWAIMAKOYOKAU, GOES TO PAPUA

11:55 AM

Sejujurnya saya belum memiliki bayangan apa yang akan saya lakukan di Papua. Sedikit rasa was-was pun saya rasakan. Tapi kemudian kembali lagi, bukankah salah satu bagian terbaik dari perjalanan adalah menemukan? Serasa sebuah petualangan dimulai ke negeri antah berantah, sebuah tempat dimana kabar seramnya saja yang terekam dan sering diberitakan, tempat dengan kekerasan dan kekayaan alamnya yang menimbulkan kegaduhan sampai saat ini. Berdebar dan sedikit ngeri dalam hati, tapi itu semua tidak cukup untuk meruntuhkan keingintahuanku.

Bukan keindahan bawah laut Raja Ampat tapi kehidupan pedalaman masyarakat Papua yang ingin kurekam dan kusaksikan sendiri. Bukit-bukit kecil diantara birunya laut sebelum mendarat di Bandara Pattimura Ambon dan melanjutkan perjalanan menuju ke Nabire, Papua menjadi suguhan menarik. Dengan cepat kuminta ke bapak yang duduk disampingku untuk bertukar posisi sehingga dapat kuabadikan moment ini. Beruntung saat itu langitnya bagus dan air lautnya bersahabat. Terlihat dari atas jalan kecil dan meliuk liuk melewati hutan, sungai dan pemukiman masyarakat pedalaman sebelum mendarat di Bandar udara Nabire, dalam hati ku ucapkan Alhamdulillah tiba dengan selamat.
Akhirnya bisa menjejakkan kaki di ujung timur Indonesia, meskipun tidak dapat melihat pesta demokrasi di Papua dikarenakan ketiduran dan akhirnya ketinggalan pesawat. Menurut anak pak distrik yang kebetulan penduduk asli sana yang sering membantu kami di rumah mengatakan “Kaka bisa poto-poto orang yang pakai koteka dan noken saat pemilihan, biasanya semua turun”. Bagi saya ini sebuah petualangan yang sarat makna, terlepas dari diskusi panas yang selalu terjadi di antara orang Papua dan  orang Aceh tentang hak untuk merdeka, entahlahh mungkin akan berhenti hingga saatnya tiba.
Kalau boleh jujur, saya bukanlah penggemar penerbangan pagi! Penerbangan pagi memaksa saya bangun lebih awal dibanding ritme biologis saya, semua demi menyesuaikan dengan jadwal check in dan boarding penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Hal inilah yang membuat saya ketinggalan penerbangan hari itu juga. Tak masalah buat saya tapi dompet iyahh, besoknya saya bisa berangkat lagi.
Perjalanan ke pedalaman Papua memang menantang sekaligus menyenangkan, lokasi yang saya kunjungi berjarak sekitar 200 km lebih dari bandara dengan medan hutan, sungai, jalan bebatuan plus lumpur yang hanya bisa ditempuh dengan kendaraan 4x4 tepatnya jalan menuju ke Waegete. “BABI” sangat banyak di temui, saking banyaknya berkeliaran di jalanan, jika ditelusuri lebih lanjut maka akan didapati Babi – Babi yang sengaja di pelihara dirumah – rumah warga. Tapi disini saya tak akan menceritakan kisah Babi – Babi tersebut yang hidup berdampingan erat dengan manusia, melainkan pesona alam Papua yang lebat dan asri bak mutiara hitam yang terpendam. Yang pasti saya menemukan banyak hal-hal baru yang barangkali telah hilang dari budaya perkotaan. Masih terdapat keluguan, ketaatan, dan kebersamaan di desa terpencil ini.

Masih banyak lagi yang saya alami selama disana mulai dari dalam perjalanan menuju ke Waegete dimana saya harus antri bermalam di tenga hutan karena ada kendaraan yang tidak bisa melawati tanjakan yang dipenuhi lumpur hingga saya harus mempikul kayu besar ke atas agar mudah dilalui kendaraan. Beberapa kali harus berlari ke rumah saat terdengar suara tembakan berkali-kali, menurut warga pendatang disana itu merupakan bentrok penduduk sana dengan aparat dan yang lebih mencengangkan saat hendak menuju ke bandara kemudian ditahan oleh beberapa penduduk yang sedang mabuk, nyaris hampir saja kami ribut.
Hidup memang terus berjalan, mengalir seperti air. Hanya saja seberapa jauh kita bisa menikmati keleluasan dan kemudahan yang telah diberikan kepada kita selama hidup. Wah tak terasa malam semakin larut, mata juga semakin tak tahan dengan kantuk. Yang jelas tanah ini memberikan kedewasaan dalam berpikir, kematangan dalam bertindak, kegetiran dalam kesepian, kesakitan dalam peperangan dan senyum di akhir kemenangan, itu sihhh kata ayahku yang sering bolak-balik Makassar-Papua. Menurutnya, “Dimanapun kita bisa belajar tentang apa saja, berjalan kemana saja, bersahabat dengan siapa saja, dan harusnya kita bersyukur diberi kesehatan serta rezeki hingga hari ini” jujur sangat senang dapat menginjakkan kaki disini dan Alhamdulillah saya telah mengunjungi tempat ini sebanyak dua kali. Amin Ya Allah!!

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe