Realitas Politik itu Jamak, yang “tunggal” adalah Moralitasnya

11:54 AM

Merindukan rembulan yang telah dihijapi AWAN HITAM, kata ini seolah menggambarkan kondisi politik di Indonesia yang belum bisa membaik. Yang terjadi malah banyak orang yang mengejar kekuasaan tanpa penguasaan dan menguasai hingga akhirnya dikuasai oleh sesuatu yang lebih besar lagi. Seperti kebodohan, jalan buntu dan kegelapan.

Penguasaan dan menguasai merupakan hal yang sangat berbeda dengan kekuasaan. Hal ini menjadikan kekuasaan seringkali menjerumuskan orang menjadi  lupa diri dan berperilaku menyimpang. Banyak kasus seperti para tokoh yang kini menjadi buruan KPK akibatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan semakin menurun karena berbagai kasus yang melibatkan banyak politisi yang termasyhur di negeri ini. Kalimat ini tampaknya selalu relevan mengiringi perjalanan setiap kejadian yang terjadi saat ini. Yang pasti semua berubah, semua bergerak bahkan ketika kita diam sekalipun tetap bergerak seperti bangku depan, kaki kanan yang disampingnya berlubang.

Buku dengan tebal 199 halaman karangan Eros Djarot menjadi rekaman kritis yang menghantarkan kita pada pemahaman politik yang tidak hitam-putih dan kaya perpestif serta menjadi potret bahwa realitas politik itu jamak, yang “tunggal” adalah moralitasnya. Semoga pemimpin memiliki rasa takut dan mampu membentengi diri dengan iman sehingga tidak akan ada lagi politisi maupun pemimpin yang tertangkap, dikejar-kejar wartawan dan mengenakan baju yang berwarna orange seperti milik petugas kebersihan di gedung KPK maupun Hotel Frodeo.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe