Hari Para Pencari Jawaban, Demokrasi Sakit Atau Sakti!!!

10:14 AM

image from google
Kini politik dan demokrasi tak ubahnya menjadi dua barang mewah, jangan memaksa untuk mencicipi telur asin hidanganmu. Lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Sebentar lagi pesta demokrasi serentak tahun 2015 diadakan, ada-ada saja cara calon pemimpin meng-kampanyekan dirinya mulai dari dialogis, doa bersama hingga mencicipi telur maupun air putih dari orang pintar demi kemenangan.

Ini menandakan wajah demokrasi mengalami pasang surut “Kadang sakit maupun sakti” sejalan dengan perkembangan tingkat ekonomi, poltik dan, ideologi sesaat atau temporer. Hampir semua negara di dunia menyakini demokrasi sebagai “tolak ukur tak terbantah dari keabsahan politik”. Keyakinan bahwa kehendak rakyat adalah dasar utama kewenangan pemerintah menjadi basis bagi tegak kokohnya sistem politik demokrasi. Hal itu menunjukan bahwa rakyat di letakkan pada posisi penting walaupun dalam implikasinya diberbagai negara tidak selalu sama, salah satunya pemilu.

Pemilihan umum merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern. Karena dengan pemilihan umum, masyarakat secara individu memiliki hak dipilih sebagai pemimpin atau wakil rakyat maupun memilih pemimpin dan wakilnya di lembaga legislatif. Pemilu dewasa ini memfasilitasi sirkulasi elit, baik antara elit yang satu dengan yang lainnya, maupun pergantian dari kelas elit yang lebih rendah yang kemudian naik ke kelas elit yang lebih tinggi. Sebenarnya sirkulasi ini akan berjalan dengan sukses dan tanpa kekerasan jika pemilu diadakan dengan adil dan demokratis. Jika melihat bentuk demokrasi dalam struktur pemerintahan kita dari level negara, provinsi, kabupaten, hingga kecamatan hampir dapat dipastikan di level ini demokrasi hanya sampai pada proses pembuatan kebijakan. Sementara jika mencari demokrasi yang berupa ciri khas yang dapat mewakili bahwa Negara indonesia mempunyai diri demokrasi tersendiri itu hanya dapat dilihat di level desa.

Seperti ditulis almarhum Moh. Hatta bahwa,”Di desa-desa sistem yang demokrasi masih kuat dan hidup sehat sebagai bagian adat istiadat yang hakiki. Seperti pola-pola demokrasi tradisional yang dilambangkan oleh musyawarah dalam pencapaian keputusan dan gotong royong dalam pelaksanaan keputusannya tersebut.” Pertanyaannya, masih bisakah itu terwujud!!. Sementara kedua barang mewah ini sudah menggerogoti pikiran masyarakat dari tingkat paling rendah sekalipun dengan iming-iming. Sepertinya itu sangat sulit terwujud. Di media massa kita sering mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah itu sendiri, melanggar nilai-nilai demokrasi. Orang-orang kurang menghargai kebabasan orang lain, kurang menghargai perbedaan, supremasi hukum kurang ditegakan, kesamaan kurang di praktekan, partisipasi warga negara atau orang perorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan politik belum maksimal, musyawarah kurang dipakai sebagai cara untuk merencanakan suatu program atau mengatasi suatu masalah bersama, dan seterusnya.
image from google
Untuk mewujudkan demokrasi sakti bukan sakit, maka harus dilaksanakan pemilu yang memang benar-benar mengarah pada nilai-nilai demokrasi dan mendukung demokrasi itu sendiri. Kita harus bisa mengembalikan substansi pelaksanaan pemilu yakni LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia) bukan kah hal ini yang diajarkan kepada kita sejak duduk dibangku SD maupun SMP.

Image from google
Bertarung lepas tiada henti .. Woy… woy….
Menancap keras didada..
Yang kami inginkan hanya hidup damai
Bukan omong kosong yang engkau tawarkan Babi !!!
Yang kami inginkan hanya hidup damai
Sebuah kebebasan dengan semangat equality.
Kita belati yang tak sempurna dan jauh dari merdeka
Kita bernyanyi, belati ini abadi dan takkan pernah berhenti
Tenanglah akan ada Hari para pencari kan temukan jawaban…
Selamat berpartisipasi dalam PILKADA serentak ini


You Might Also Like

4 komentar

  1. Bertarung lepas tiada henti .. Woy… woy….Sadis puisinya..mantap bar.

    Selamat berpartisipasi..Hidup PILKADA..!!! 9 Desember 2015..
    Aku Milih Nomer 2 Bar, Kamu..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ulun jua pank numur 2 kaena dicucuk, berbahasa banjar karena berada di tana banjar

      Delete
    2. Nang Asli Urang banua Jar...hahahha...Nomer 2 Untuk Kalsel

      Sahbirin & Rudi

      Delete
  2. bagaimana hasil penghitungan suara nya untuk wilayah kalsel?
    siapa yang menang?
    mas Anjum hayuks yang rajin olahraganya...
    akbar mau cuti, balik dari cuti pasti naik 10kg neh.

    ReplyDelete

Subscribe