Euphoria Teman Tentang Kota Gudek

5:16 PM

Kita hari ini, tanpa sikap, silahkan tenggelam dalam euphoria teman-teman yang selalu bercerita ; Dulu saya begini, kami begini, dulu itu… duluuu… dan hal itu masih terngiang dalam benak saya cerita tentang sejarah maupun tempat-tempat menarik disini. Kesempatan untuk melakukan perjalanan itu akhirnya terwujud di tahun 2014 bersama kedua teman saya ke Yogyakarta. Jogja terkenal sebagai kota yang penuh dengan beranekaragam budaya. Jogja memiliki daya tarik tersendiri, suasana kota yang asri dan keramahan penduduknya membuat siapa saja yang berkunjung pasti ingin segera kembali lagi kesana.

Hari pertama disini, Jogja menyambut dengan panas menyengat. Begitulah yang saya rasakan saat pertama kali memasuki Jogja. Becak, Andong, Pejalan kaki, Bangunan-bangunan tua,  Pedagang batik ada dimana-mana. Dari bandara Adi Sucipto saya menuju ke sekitar pasar beringharjo mencari penginapan (Losmen Superman di Sarkem, cuyy.. deket tempat nganuu… tapi gak nganuu….). Setelah itu saya langsung mengantar teman untuk mencari si mbanya yang hilang (mirip judul sinetron) di daerah yang tidak jauh dari Pantai Parang Tritis. Awalnya sempat bingung, yang pertama teman saya sudah lama gak berkunjung ke tempat embahnya, kedua tidak ada satupun nomer telpon maupun alamat yang jelas. Yang menjadi petunjuk hanyalah SEINGAT SAYA kalau GAK SALAH deket anu… rumah mbah saya. Sekitar 1 jam berputar-putar akhirnya kami menemukannya. Suasana haru layaknya anak yang bertahun-tahun merantau dan baru balik ke kampung halamannya terjadi dihadapanku. Tetangga, sanak saudara maupun yang lain-lainnya berkumpul memberi selamat dan menyapanya. Sedikit terharu dan saya meyakinkan apa yang saya pikirkan dalam perjalanan saat mencari embahnya yang hilang.
Air mata seraya senyum sumringah orang tua ke cucunya terlihat jelas. Beberapa jam disana kami bergegas kembali ke penginapan. Namun sebelum itu kami mampir ke Pantai Parang Tritis. Pantainya bagus tapi tidak seseram maupun se-sakral yang orang-orang ceritakan maupun yang sering diputar di film. Hanya angin kencang, ombak yang ganas dan pantai yang membentang luas sepertinya sangat cocok untuk olahraga surfing maupun aeromodeling.  Menurut pak supir yang mengantarkan kami, Pantai Parang tritis sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Selain itu juga biasa digunakan sebagai tempat untuk pelaksanaan upacara labuhan yang diadakan oleh Kraton Yogyakarta tiap waktu tertentu.
Meskipun hanya 3 hari berada disini namun sangat menyenangkan karena bertepatan dengan malam minggu. Suasananya sangat ramai, sepanjang jalan Malioboro tepatnya di depan Benteng Vdeburg berkumpul berbagai komunitas dan musisi yang bersileweran serta pameran seni rupa yang berada disepanjang jalan. Hal inilah yang mungkin membedakan kota ini dengan kota-kota besar lain di Indonesia, dimana seniman tak pernah kehabisan ide untuk menggunakan berbagai tempat sebagai media sehingga dapat terus berkarya terutama di ruang-ruang publik. Ditambah semuanya serba murah mulai dari pakaian, pernak-pernik khas jogja sampai dengan makanan diseberang rel kereta api deket pasar Beringharjo yang sudah direkomendasiin sama mas anjumfz sebelum pelesiran ke yogya. Kata dia, kalau lho ke Jogya mesti nyobain makan di angkringan Lekman + kopi joss nya, sangat murahh dan enak tapi tetep mahal kalau makannya banyak.
Keesokan harinya kami mengunjungi Museum Keraton Yogyakarta, Taman sari kemudian mencari oleh-oleh disepanjang pasar beringarjo dan menyaksikan Festival Bregodo Rakyat yang diikuti ribuan masyarakat dengan mengenakan kostum prajurit Kraton yang dimulai dari parkiran Abu Bakar Ali kemudian melewati Jalan Malioboro hingga finish di Kraton. Menurut informasi festival ini merupakan wadah pelestarian pembinaan serta apresiasi kepada para bregodo rakyat yang dimiliki oleh sejumlah daerah di Yogyakarta. Sungguh sebuah kekayaan budaya yang sangat luar biasa untuk selalu dijaga dan lestarikan.
Dari festival itu, saya langsung bertemu dengan teman kerja saya di Kalimantan yang kebetulan sedang cuti juga dan merupakan anggota komunitas Vespa Sarkem… lupa nama clubnya yang dingat hanya namanya Pak Pong… dia orang asli yogya dan terkenal dengan vespa orange jadulnya. Prinsip hampir semua backpacker, “pergi sejauh-jauhnya ke tempat yang menarik dengan biaya sekecil-kecilnya” bermodalkan hal itu lah saya mulai berbincang dengannya sampai ia menawarkan 2 kendaraan untuk dipakai jalan-jalan dan candi Borobudur menjadi salah satu destinasi kami saat di Yogyakarta.
Jarak dari penginapan ke candi Borobudur lumayan jauh. Selain uang di dompet serta motor, kami juga bermodalkan GPS menuju kesana, kurang lebih hamper mirip saat perta kali ke Bali.. bro. Hujan rintik dan angin-angin kecil menemani perjalanan kami. Karena waktu berkunjung hampir habis, kami sempat dilarang masuk. Kartu pers dari perusahaan tempat saya bekerja menjadi senjatanya. Kartu itu diperlihatkan, kamera dikeluarkan alhasil kami diizinkan masuk meskipun hanya sebentar saja. Lumayanlah beberapa sudut dan pemandangan dari atas di Candi Borobudur sudah kurekam + selfie dengan teman-teman. Bangga bias menyambangi satu dari 7 keajaiban dunia yang menjadi wisata andalan Indonesia yang memiliki 1460 relief dan 504 stupa, tak mengherankan jika jutaan orang mendambakan untuk mengunjungi bangunan ini.
Malam terakhir di Jogya, kami menyempatkan mengunjungi pohon besar yang katanya apabila dapat melintasinya dengan mata tertutup maka apa yang diinginkan dapat terwujud. Saya pun ikut mencobanya ternyata cukup sulit, saya harus mengulang sampai tiga kali agar dapat melaluinya sambil mengucapkan dalam hati apa yang diharapkan. Satu hal yang saya rasakan dari perjalanan ini, betapa berartinya waktu dalam hidup dan betapa kejamnya kehidupan bagi mereka yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Berhentilah untuk tenggelam oleh euphoria teman-teman maupun artikel yang selalu bercerita tentang tempat ini. Selagi bisa, masih sehat dan ada kesempatan rekam semuanya kemudian berceritalah layaknya mereka.

You Might Also Like

1 komentar

Subscribe